Headlines News :
PNPM MP Koorkot BITUNG - Jl Sarundajang, Blok C No 21 Kel. Girian Permai Bitung 95518
    ALOKASI DIPA/PAGU BLM APBN PER KECAMATAN KOTA BITUNG

    PENTINGNYA KERJASAMA TIM

    Memasuki tahun 2013, Para Pelaku Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MPk) mengalami perubahan dan penambahan personil. Karena ada penambahan wilayah di beberapa Kabupaten Kota, ada pelaku yang dipromosi dalam peningkatan karier, dan ada pula pelaku yang tidak diperpanjang kontraknya.

    Termasuk juga Fasilitator TIM 21 Koordinator Kota Bitung Oversight Service Provider (OSP) 08 Propinsi Sulawesi Utara. Awalnya tim yang terdiri dari 5 orang, saat ini menjadi enam orang di bawah pimpinan Susanti Baleke, SE  sebagai Senior Fasilitator, Lisa Lasut, SE Fasilitator Ekonomi, Herman Runturambi, SE Fasilitator Sosial, Maitrin Nova Sarinah Baulogi, SP.d Fasilitator Sosial, Stefani Switly Peginusa, SST Fasilitator Teknik,  dan Regina Kare, ST Fasilitator Teknik.

    Perubahan ini tidak serta-merta membuat tim ini kehilangan semangat kerja samanya. Sekalipun personilnya berubah-ubah, namun Faskel Tim 21 mampu membangun kerjasama tim yang solid, saling membantu, menopang, dan bertanggung jawab terhadap tugas dan fungsi masing – masing. Sehingga, walaupun ada banyak tuntutan pekerjaan yang harus dilaksanakan dan diselesaikan Tim 21 tetap memiliki semangat dan komitmen yang tinggi untuk melayani dan memfasilitasi warga miskin.


    Tim 21 2012
    (Dari Kiri ke Kanan)
    Lisa Lasut, Susanti Baleke, Ivone Leong, Switly Peginusa, Junaedi Rongkonusa
    Wilayah dampingan Tim 21 terdiri dari 10 Kelurahan yang tersebar di Kecamatan Girian dan Kecamatan Madidir. Di Kecamatan Girian terdapat 7 Kelurahan, di antaranya : Kelurahan Girian Permai, Kelurahan Girian Atas, Kelurahan  Girian Weru Satu, Kelurahan Girian Bawah, Kelurahan Girian Weru Dua, Kelurahan Girian Indah, dan Kelurahan Wangurer, dan di Kecamatan Madidir ada 3 Kelurahan, di antaranya : Kelurahan Wangurer Barat, Kelurahan Wangurer Timur, dan Kelurahan Kadoodan.

    Untuk memudahkan pendampingan, Tim 21 berposko di salah satu rumah warga Kelurahan Girian Weru Dua (Keluarga Bapak Welly Pinontoan), Blok E. 101. Lokasinya sangat strategis sehingga mudah dijangkau. Dari 10 kelurahan masing – masing fasilitator dibagi wilayah dampingan, yakni Susanti Baleke mendampingi Kelurahan Girian Atas, Lisa Lasut mendampingi Kelurahan Girian Weru Dua, Herman Runturambi mendampingi Kelurahan Girian Permai dan Kadoodan, Maitrin Baulogi mendampingi Kelurahan Girian Bawah dan Wangurer, Switly Peginusa mendampingi Kelurahan Wangurer Barat dan Girian Indah, dan Regina Kare mendampingi Kelurahan Wangurer Timur dan Girian Weru Satu.

    Tujuan pembagian pendampingan selain menjangkau seluruh kelurahan dampingan, juga mempermudah dalam pengelolaan administrasi, dengan tidak mengabaikan tugas dan fungsi pokok masing – masing fasilitator. Dari hasil penilaian tingkat Askot dan Korkot, kinerja Tim 21 cukup baik.

    Baik dari segi infrastruktur, social dan ekonomi khusus LPJ, Pembukuan UPK dan Sekretariat untuk tahun buku 2012, sudah baik dan terarsipkan dengan baik, maka dalam rapat rutin Korkot, Askot dan seluruh Faskel Januari 2013 diusulkan dan disepakati bersama bahwa Tim 21 menjadi sasaran Uji Petik Konsultan Manejemen Wilayah OSP – O8 dan akan menjadi pailot project pelaksanaan Audit Independent BKM/LKM Tahun Buku 2012.

    Kelurahan dampingan Tim 21 yang menjadi sasaran Uji Petik OSP – O8 adalah Kelurahan Girian Bawah, dibawah pimpinan Koordinator LKM Maju Bersama Hj. Nur Wakid, S.Pd, Sekretaris Titiek S. Mane, Unit Pengelolah Keuangan (UPK) Herlin Ariani, Unit Pengelola Lingkungan (UPL) Abdulrahman Dompas, dan Unit Pengelola Sosial (UPS) Nur Hasni Harun.


    Tim 21 2013
    (Dari Kiri ke Kanan)
    Regina Kare, Switly Peginusa, Maitrin Baulogi, Herman Runturambi, Lisa Lasut
    Menindak lanjuti hal tersebut, maka Tim 21 melaksanakan rapat untuk persiapan sekaligus melengkapi/membenahi LPJ dan pembukuan yang masih belum lengkap. Selesai Uji Petik di Kelurahan Apela Dua, pada tgl 18 Februari 2013 OSP – 08 yang dihadiri oleh Acep Mawardi (Tenaga Ahli Manajemen Keuangan), Novrey Wurangian (Tenaga Ahli Infrastruktur), Alharits Hunowu (Sub Tenaga Ahli SME’s), dan Sony Manabung (Tenaga Ahli Sistem Informasi Manajemen) menuju Kelurahan Girian Bawah.

    Bersama LKM, Sekretaris, UP-UP dan KSM, pukul 17.00 Wita di Sekretariat LKM Maju Bersama dilaksanakan Uji Petik.

    Berdasarkan hasil Uji petik tersebut, dinyatakan bahwa Kelurahan Girian Bawah cukup baik dan mandiri dalam penanggulangan kemiskinan dan dalam pengelolaan administrasi.

    Hal itu dibuktikan dengan adanya upaya dan semangat LKM dalam menangani Pengelolaan Dana Bergulir yang macet karena banyak yang menunggak dan karena masih banyak pemahaman masyarakat bahwa Dana Bergulir merupakan Dana Hibah, sehingga tidak perlu dikembalikan.

    Berbagai upaya dilakukan LKM untuk memberi penjelasan kepada masyarakat, sehingga saat ini Kegiatan Dana Bergulir di Kelurahan Girian Bawah Lancar, bahkan Acep Mawardi selaku TA MK menyatakan bahwa Kelurahan Girian Bawah bisa mengakses dana yang lebih besar lagi melalui program P2MK (Peningkatan Pencaharian Masyarakat berbasis Komunitas).

    Karena itu, betapa pentingnya kerjasama pelaku – pelaku yang ada, baik Fasilitator, BKM/LKM, UP – UP, KSM, dan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan. Sehingga apa yang menjadi tujuan dapat tercapai.

    Dan dengan semangat kerja sama semua BKM/LKM, Sekretaris, UP-UP dan KSM bersama Fasilitator tim 21 dan Tim Korkot Bitung maka pada tanggal 21 Maret 2013 di Kantor Korkot Bitung dilaksanan Audit Independent Tahun buku 2012 oleh Akhmad Yani dan Syamsudin Sa’ad, dengan hasil Wajar Tanpa Pengecualian.

    Penghargaan tertinggi untuk “Kerja Keras” bukanlah apa yang dihasilkan, melainkan bagaimana kita berkembang karenanya (Andri Wongso). Dengan demikian membangun Kerja Sama Tim akan mendorong kita membangun Kelurahan dan meanggulangi Kemiskinan.

    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
    Secretariat LKM Maju Bersama : Lingk. I Kel. Girian Bawah
    Koordinator LKM: Hj. Nur Wakid, S.Pd (081340680866)
    Contact Person Penulis/SF Tim 21: Susanti Baleke, SE (081340733976)

    JALAN HARAPAN UNTUK PETANI DAN WARGA

    Sebagian Masyarakat di Kelurahan Binuang, Kota Bitung Propinsi Sulawesi Utara merasa lega dan menyambut dengan suka cita, karena Jalan Rabat Beton yang sudah lama mereka idam-idamkan telah terwujud. Jalan Rabat Beton yang begitu vital bagi penduduk Kelurahan Binuang yang mayoritas petani akhirnya selesai juga. Tidak hanya itu, Dan ternyata Jalan Rabat Beton tersebut penting bagi petani “tetangga” seperti Kelurahan Nusu dan Kelurahan Motto.

    Jalan Rabat Beton tersebut dibangun dengan dana  PNPM Mandiri Perkotaan tahun Tahun Anggaran 2012 sebesar  Rp17.342.500. Yang luar biasa, pembangunan Jalan Rabat Beton ini mampu menyerap swadaya masyarakat sebesar Rp. 8.444.000.

    Dari dana BLM & Swadaya tersebut, dibangunlah Jalan Rabat Beton berukuran lebar  2 meter dengan panjang 100 meter, yang menghubungkan kampung Islam dengan Tambatan perahu sebagai terminal penumpang dan barang jika warga masyarakat membawa hasil panen untuk dijual di kota Bitung.

    Sebelum dibuatnya jalan ini, aktivitas para petani sangat terhambat. Terutama ketika mengangkut hasil panen. Aktifitas warga tidak bisa optimal karena kondisi Jalan yang tidak memadai dengan kondisi becek ketika turun hujan. Warga masyarakat harus melewati tepian pantai dengan bebatuan terjal yang dapat beresiko bagi keselamatan warga saat melintasinya.

    Namun, sejak Jalan Rabat Beton baru, masyarakat-pun merasa nyaman menjalankan aktivitasnya. Banyak aktifitas yang dulunya terhambat sekarang menjadi lebih cepat. Ditambah lagi posisi Jalan Rabat Beton tidak jauh dari jalan utama menuju Tambatan Perahu.


    Sekarang masyarakat tidak lagi mencemaskan musim hujan. Tidak ada lagi jalur becek dan sulit dilewati kendaraan maupun pejalan kaki.

    Masyarakat Kelurahan Binuang sangat antusias menerima pembangunan Jalan Rabat Beton yang merupakan urat nadi pertanian Kelurahan tersebut. Apalagi mengingat mayoritas mata pencaharian penduduk Kelurahan Binuang adalah petani.

    Dengan meningkatnya akses sarana dan prasarana yang baru dan lebih memudahkan aktivitas ini, masyarakat berharap hasil pertaniannya bisa lebih meningkat. Dan tentu saja kehadiran Jalan Rabat Beton ini telah memberi harapan bagi para petani dalam peningkatan penghasilan usahanya.

    INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI :
    BKM Maju Bersama Kelurahan Binuang Kec. Lembeh Utara
    Propinsi Sulawesi Utara
    Penulis :
    Stephenson Mananoma, S.Pd
    Telp : 085256366084Senior Fasilitator
    Optien Taliwunan
    Telp : 081340040079

    TIM 17 KOTA BITUNG


    DESEMBER KELABU DI SELAT LEMBEH

    Selat lembeh merupakan sebuah selat yang secara administratif berada dalam wilayah otonom Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Disepanjang perairan selat lembeh terdapat pulau-pulau kecil tak berpenghuni dengan struktur batuan kapur yang rapuh dan terangkat keatas permukaan.

    Keseluruhan bentuk morfologi daratan yang membentang di sepanjang kedua sisi selat lembeh ini membentuk panorama alam yang berkesan dramatis. Berbagai flora dan fauna seperti terumbu karang beraneka warna dan fauna laut yang mempesona mengundang decak kagum bagi setiap orang yang melihatnya.

    Disamping keindahan akan flora dan fauna bawah laut, pulau lembeh juga punya keindahan panaroma alamnya. Pulau yang terbentuk dari bebatuan kapur tersebut dibungkus indah oleh hijaunya dedaunan pohon kelapa. 

    Namun Selat ini terkadang bergelora pada musim-musim tertentu yang ekstrim dan dapat membahayakan para nelayan dan siapa saja yang mengarungi selat tersebut terutama pada bulan desember atau memasuki pergantian tahun.

    Untuk mencapai kelurahan dampingan diwilayah Pulau Lembeh, Fasilitator dan masyarakat hanya biasa menggunakan perahu sebagai transportasi laut, disamping juga kapal Feri yang sering mengangkut material bangunan serta kendaraan beroda dua dan empat untuk didaratkan kepulau lembeh. 

    Perjalanan Ke Lembeh Kel Motto | suasana pelatihan
    dengan menumpangi transportasi laut tersebut, kita harus melewati selat yang penuh keindahan biota laut ini, tetapi juga penuh resiko yang dapat membahayakan para penumpang.

    Hari itu, Sembilan belas Desember 2012.
    Kami berangkat ke-Kelurahan Motto untuk memfasilitasi Pelatihan Masyarakat sebagai bagian dari tanggunjawab dan tugas kerja yang harus kami emban sebagai seorang fasilitator.
    Dengan menumpangi perahu yang biasa digunakan oleh warga Pulau Lembeh ketika hendak berbelanja ke Kota Bitung, kurang lebih dua jam perjalanan tibalah kami pada Kelurahan Binuang yang juga merupakan salah satu Kelurahan Dampingan Tim 17 Bitung.

    Untuk bisa mencapai Kelurahan Motto, dari Binuang kami harus mendaki Gunung, perbukitan karena Kelurahan Motto berada didaerah pantai sebelah yang menghadap Pulau Ternate Maluku Utara.

    Setibanya dikantor Lurah Kelurahan Motto, kami pun disambut dengan senyuman hangat oleh Lurah dan para BKM serta masyarakat yang memang sudah sangat siap untuk mengikuti hari ketiga atau hari terakhir pelatihan.

    Setelah selesai melepas lelah dan bersenda-gurau dengan warga yang ada, pelatihan pun dimulai. Materi demi materi kami sampaikan demi terwujudnya Perubahan Sosial yang ada di masyarakat Kelurahan Motto.

    Tiga hari kegiatan pelatihan berlangsung dengan baik, ada begitu banyak warga masyarakat yang turut mengambil bagian dalam pelatihan tersebut.

    Partisipasi warga juga cukup aktif dalam meresponi kegiatan pelatihan, walaupun diawal pelatihan peserta masih terkesan malu-malu dalam menyampaikan pendapat baik pertanyaan dan saran kepada Fasilitator (pemandu). Namun lambat laun peserta sudah bisa menyesuaikan diri dan dapat menyampaikan pertanyaan dengan sangat kritis.

    Suasana Pelatihan berlangsung hangat karena diselingi Ice Breaking. Komunikasi terjalin baik antara fasilitator dengan warga masyarakat.
    Setelah selesai melaksanakan tugas memandu pelatihan selama tiga hari, kami pun berpamitan dan bergegas pulang ke Kota Bitung mengingat hari sudah senja dan tak ingin kemalaman ditengah jalan.

    Lagi-lagi kami harus mendaki gunung dan menuruni bukit agar mencapai dermaga Kelurahan Binuang untuk terus mencari tumpangan perahu ke Kota Bitung.

    Pukul 18.00 WITA.
    Tibalah kami didermaga Kelurahan Binuang. Karena hari sudah menjelang malam, tidak ada lagi perahu yang akan menyebrangi selat lembeh yang memang sudah tidak ada lagi jadwal keberangkatan perahu bagi warga. Sekitar lima belas menit kami semua bingung dan lunglai akibat ketiadaan perahu untuk membawa pulang sekelompok tim Pemberdaya dari tugas mulia ini. 

    Tiba-tiba salah seorang anggota BKM “MajuBersama” Kelurahan Binuang, Bapak Saul Tatauhe menawarkan jasa untuk mengantar kami berlima menyebrangi selat lembeh menuju Kota Bitung. Setelah selesai menyiapkan segala peralatan dan perahu oleh Bapak Saul Tatauhe, maka berlayarlah kami mengarungi selat lembeh dengan riang gembira karena seluruh kegiatan pelatihan disemua dampingan telah selesai.

    Dengan menumpangi perahu yang bernama “Lionel” itulah kami berlayar mengarungi selat lembeh dengan riang gembira karena mendapat tumpangan gratis oleh seorang anggota BKM Kelurahan Binuang.

    Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WITA.
    Ketika memasuki wilayah Kelurahan Makawidey dan hamper tiba diteluk Kasawari (Sekitar 15 KM dari Kota Bitung), tiba-tiba arus kencang dan gelombang laut menghempaskan perahu kami dan perahu yang kami tumpangi terbalik karena sema-sema (Sayap) sebelah kanan tidak mampu menahan kencangnya arus dan gelombang laut yang menerpa kami.
    Suasana gembira karena mendapat tumpangan saat itu juga berubah menjadi kekuatiran, kepanikan dan teriakan minta tolong seketika memekik suasana malam yang semakin kelam. dibarengi dengan rasa takut yang amat sangat merasuk setiap kami, kami tak bisa berbuat banyak kecuali menyelamatkan diri kami dari dahsyatnya arus laut.
     
    Kondisi Perahu ketika diselamatkan nelayan
    Dolfi Lontoh salah seorang Fasilitator Teknik yang tidak bisa berenang saat itu menjadi orang yang paling terpukul dan shok diantara kami setim, dia meraung meminta pertolongan,  dia mencengkeram perahu bahkan benda apapun yang ada untuk dapat mengapung sebagai pijakan karena hamper saja direnggut dan ditelan oleh derasnya arus laut yang saat itu mengguncang jiwa dan perahu kami. 

    Kami terapung-apung selama dua jam diperairan selat lembeh pada malam hari dengan sangat ketakutan, kami meraung-raung meminta pertolongan kepada setiap perahu yang melintasi selat lembeh pada malam itu, namun tidak ada yang mendengar teriakan kami, mungkin teriakan kami tidak didengar, karena kerasnya angin badai dan gemuruhnya suara motor para nelayan, jalan satu-satunya adalah berusaha membalikkan perahu yang sudah terbalik. 

    Kami mengalami kesulitan untuk membalikkan perahu karena salah seorang diantara kami tidak bisa berenang dan harus tinggal diatas perut perahu yang sudah terbalik dan menghadap ke langit, namun kami tetap berusaha sekuat tenaga kami.
    Optein, Yos dan Bapak Saul Tatauhe yang kebetulan bisa berenang mencoba menggiring perahu, sementara itu Hanny Mona dan Dolfi Lontoh tinggal diatas perut perahu karena tidak biasa berenang. 

    Dengan sekuat tenaga kami mencoba menggiring perahu namun semakin kami menggiring semakin kuat pula arus yang membawa kami keluar semakin jauh, jauh dan jauh.
    Handphone dan alat komunikasi kami basah semua sehingga tidak ada upaya untuk menghubungi tim sar atau pun siapa saja yang bisa segera menolong kami, bahkan Komputer sebagai wadah penyimpanan data selama proses pendampingan masyarakat di pulau lembeh juga ikut basah dihempas air pasang.

    Sementara itu raungan minta tolong terus dan terus kami lakukan dengan harapan ada perahu nelayan yang dapat menyelamatkan kami,
    kurang lebih pukul 21.00 WITA pertolongan yang kami tunggu-tunggu pun datang.
    Perahu Nelayan menyelamatkan kami dan mengangkat kami dari dinginnya air laut pada malam 19 Desember 2011. Kami dibawa oleh para nelayan ketepian pantai Kasawari.
    Setibanya dipantai Kasawari kami pun bergegas mencari tumpangan ojek untuk membawa kami ke Kelurahan Pateten (Posko Tim 17Bitung) dan selanjutnya bergegas pulang kerumah masing-masing dimana keluarga dan orang-orang yang kami cintai menunggu kepulangan kami.

    Setelah diselamatkan nelayan, Memeriksa barang yg basah
    Dengan penuh keterkejutan dan rasa iba melihat kondisi kami, keluarga kami menyambut kami dengan penuh keharuan dan ungkapan Syukur kepada Yang Maha Besar Tuhan atas keselamatan yang daripada-Nya sehingga kami diluputkan dari cengkraman maut.
    Ini adalah pengalaman yang tidak pernah terlupakan selama menjalani kehidupan sebagai Fasilitator yang bertugas diwilayah Kepulauan, segala resiko dapat menghadang demi sebuah perubahan tatanan kehidupan masyarakat miskin yang kami damping untuk kehidupan lebih berdaya dan layak.

    Semoga Desember kelabu ini tidak akan pernah terulang kembali bagi setiap insane pemberdaya yang ada dimanapun, terutama diwilayah kepualuan seperti pulau lembeh.
    Dan kiranya tulisan ini dapat menjadi bahan perenungan bagi kita semua.

    oleh :

    TIM 17 KOTA BITUNG
    Contact Person : 081340040079 (Optien Taliwunan – SF)


    Wakil Walikota Bitung, Max J. Lomban, Selasa (9/4/2013) menemui Dirjen Cipta Karya Kementrian PU di Jakarta.

    SUARAMANADO, BITUNG:
     
    Kedatangan Lomban bersama Wakil Ketua DPRD, Maurits Mantiri dan Koordinator Kota PNPM Teddy Sulangi untuk memperjuangkan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk Kota Bitung. " BLM ini sangat membantu mensejahterakan masyarakat, terutama masyarakat ekonomi menengah kebawah dan itu sementara kita perjuangkan", kata Lomban.

    Menurutnya, BML ini merupakan bagian dari PNPM sebagai program pemberdayaan masyarakat terbesar di tanah air, dimana dalam pelaksanaannya, program ini memusatkan kegiatan bagi masyarakat Indonesia paling miskin di seluruh wilayah kota dan perdesaan. " Program ini menyediakan fasilitasi pemberdayaan masyarakat/kelembagaan lokal, pendampingan, pelatihan, serta dana BLM kepada masyarakat secara langsung", katanya.

    Wakil Walikota Bitung Bpk Max Lomban bersama Korkot PNPM MP, Bitung Bpk Teddy sulangi, dan KBP
    Besaran dana BLM ini, dialokasikan sebesar Rp750 juta sampai Rp3 miliar per kecamatan, tergantung jumlah penduduk dan seluruh anggota masyarakat diajak terlibat dalam setiap tahapan kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pengambilan keputusan dalam penggunaan dan pengelolaan dana sesuai kebutuhan paling prioritas di wilayahnya, sampai pada pelaksanaan kegiatan dan pelestariannya. " Program ini didukung dengan pembiayaan yang berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana pinjaman/hibah luar negeri dari sejumlah lembaga pemberi bantuan dibawah koordinasi Bank Dunia.


    sumber : http://www.suaramanado.com/berita/bitung/politik-pemerintahan/2013/04/6414/lomban-temui-dirjen-cipta-karya-perjuangkan-blm-pnpm-mandiri

    Bitung Raih Alokasi PNPM Rp 10 M


      Bitung, Sesuai Instruksi Presiden No 3 tahun 2010 tentang pembangunan berkeadilan telah memberi kewenangan kepada kepala daerah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan yang berkeadilan yang pro rakyat.

      Untuk itu, pemerintah kota Bitung senantiasa memberikan penguaatan-penguatan dalam upaya penanggulangan kemiskinan, termasuk berbagai program pro rakyat yang sudah digulirkan di kota Bitung yaitu pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan.

      Sejalan dengan pengelolaan keuangan kota Bitung yang memperoleh predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), demikian juga dengan pelaksanaan PNPM di kota Bitung yang telah dilaksanakan di 8 kecamatan dan 69 kelurahan sejak tahun 2011 s/d 2012 yang lalu yang memperoleh predikat Unqualified Opinion (Wajar Tanpa Pengecualian) dan memperoleh prestasi kinerja terbaik se propinsi Sulut.

      Rapat Koordinasi yang dipimpin langsung Wakil Walikota Bitung Max J Lomban SE MSi selaku Ketua TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) yang didampingi kepala Bappeda Drs Audy Pangemanan MSi (Sebagai sekretaris TKPKD) pada pekan lalu berusaha mensinergikan kembali para stakeholder PNPM di Kota Bitung dalam upaya mempertahankan prestasi ini serta mempercepat program pengentasan kemiskinan lainnya.

      Salah satu cara adalah tetap mengupayakan alokasi pendampingan PNPM selalu tertata pada APBD Induk. “Dengan begitu pencairan Juni-Juli, pencairan dana daerah urusan bersama (DDUB) sebesar Rp 5080750.000 bisa dilaksanakan dengan cepat sesuai dengan aturan,” kata Pangemanan seraya menambahkan anggaran PNPM sendiri, Kota Bitung memperoleh alokasi yang terbesar se Sulut sebesar Rp 10 Milyar.

    sumber : http://bappeda.bitungkota.go.id/?p=387

    Relawan Sejati dari Kareko

      Pak Salipada, begitu beliau biasa disapa oleh masyarakat Kelurahan Kareko. Laki-laki bernama lengkap Raamsius Albert Salipada ini lahir di Desa Siau, Kabupaten Sitaro, pada 23 April 1960 dan sempat menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas.

      Ia adalah seorang tukang profesional yang aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan di Kota Bitung. Bahkan ia kini mengabdikan diri sebagai Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Berkat Usaha, Kelurahan Kareko, yang sudah memasuki dua periode pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan yang dahulu dikenal dengan nama P2KP.
    Raamsius Albert Salipada, yang biasa disapa
    Pak Salipada, sosok relawan sejati
    dari Kelurahan Kareko

    Sejak awal masuknya P2KP, Pak Salipada selalu aktif dan nyaris tak pernah ketinggalan mengikuti setiap tahapan P2KP. Mulai dari Sosialisasi Awal hingga pemilihan anggota BKM. Ia bahkan ikut melaksanakan semua proses pemberdayaan mulai di tingkatan basis hingga tingkat kelurahan. Setiap pertemuan BKM dan masyarakat, ia terus memberikan konstribusi pemikiran yang brilian tentang bagaimana membangun Kelurahan Kareko ke depan.

    Dalam siklus pertama pembangunan BKM, Pak Salipada dipilih oleh masyarakat sebagai Koordinator BKM Kelurahan Kareko, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung.
    “Program PNPM ini banyak bermanfaat bagi masyarakat miskin karena sangat membantu masyarakat miskin berdasarkan PS 2, serta bisa membangkitkan semangat masyarakat karena landasan PNPM Mandiri Perkotaan adalah membangun kebersamaan sekaligus membangun mental dan paradigma masyarakat, yang pada gilirannya meningkatkan taraf hidup dan kapasitas masyarakat,” ujar koordinator yang populis ini. 

      “Maka dari itu, saya tidak bisa menolak ketika dalam pemilihan kembali anggota BKM saya masih diprecaya oleh masyarakat Kareko untuk menjadi Koordinator BKM Berkat Usaha. Harapan saya, mudah-mudahan komitmen masyarakat tetap sama, yaitu membantu menyelesaikan persoalan kemiskinan di kelurahan ini dengan penuh tanggung jawab dan penuh keikhlasan,” ia menambahkan.
    Komitmen Pak Salipada terhadap kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Kareko tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika tidak ada dukungan dari segenap anggota BKM lainnya, bahkan seluruh elemen masyarkat yang ada di Kelurahan Kereko, serta masyarakat miskin yang menjadi sasaran program ini. Bersama anggota BKM lainnya, Pak Salipada mengupayakan kerja sama dengan pihak lain serta tetap berkoordinasi dengan pemerintah setempat (pemda), faskel dan kelompok peduli lainnya dalam upaya meningkatkan taraf hidup warga miskin di Kelurahan Kareko agar bisa hidup lebih layak.

    Saat menerima kunjungan dari KMP
    Cita-cita luhur Pak Salipada adalah memberdayakan masyarakat miskin di daerahnya dengan segala potensi yang dimiliki serta memaksimalkan sumber daya yang ada di Kelurahan Kareko.
    “Jika semuanya ini dapat kita maksimalkan, maka saya yakin persoalan kemiskinan di kelurahan ini dapat kita atasi,” tegas dia.
    Guna mewujudkan cita-cita mulia ini, Pak Salipada tidak segan turun langsung ke masyarakat (KSM) dan memberi kesadaran bahwa kemiskinan dapat diatasi jika semua warga masyarakat menyadari bahwa kemiskinan adalah masalah bersama dan diatasi secara bersama pula tanpa perlu bergantung kepada pihak luar.
    Sebagai contoh, saat melaksanakan peningkatan pembangunan tambatan perahu, KSM Sengkanaung kadang mengalami kebuntuan dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan akibat medan atau lokasi pekerjaan berada di tepian pantai yang sering mengalami pasang surut gelombang laut, sebagai akibat musim ombak yang tidak menentu. KSM Sengkanaung menyadari bahwa Pak Salipada memiliki keahlian dalam pembangunan konstruksi, mengingat beliau adalah seorang tukang profesional yang sangat disegani di Kelurahan Kareko. Untuk itulah KSM Sengkanaung berkoordinasi dengan Pak Salipada,
    Dengan segala kemampuan dan pengalamannya sebagai tukang, serta didorong oleh fungsi pengendalian seorang Koordinator BKM, Pak Salipada pun memberikan beberapa saran, bahkan turun langsung dalam pekerjaan terkait strategi pemancangan tiang tambatan perahu dalam upaya menghindari persoalan gelombang laut.

    Akhirnya pekerjaan tambatan itu dapat diselesaikan oleh KSM Sengkanaung, berkat kerelawanan dan partisipasi Pak Salipada juga. Hingga kini masyarakat Kareko sudah bisa menikmati tambatan perahu dengan segala kenyamanannya.
    Pak Salipada dalam Pelatihan Penguatan Masyarakat Serah Terima Dana BLM II 2010 dari BKM ke
    KSM Sengkanaung untuk kegiatan
    pembangunan Tambatan Perahu
    Begitulah sosok Pak Salipada. Semangatnya untuk meningkatkan kesejahteraan warga miskin tidak pernah pudar dan tidak dibatasi oleh kepentingan pribadi, kepentingan politik, ataupun kepentingan keluarga. Karena, bagi beliau, segala sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat miskin sama saja dengan berbuat yang terbaik bagi keluarganya sendiri.

    Lebih lanjut, Pak Salipada berharap dapat menjadi pendorong bagi segenap pengambil kebijakan di Kelurahan Kareko agar mampu bersinergi dan bahu membahu dalam memberikan kemampuan dan potensi diri, sehingga dapat menghadirkan kesejukan bagi warga masyarakat yang tidak mengalami keberuntungan hidup.

    Pendeknya, kata dia, adalah memberikan semua kemampuan kita untuk menopang kehidupan warga miskin untuk lebih baik lagi, sehingga mereka (warga miskin) dapat tersenyum dan ingin hidup seribu tahun lagi. (OC 8 Sulut)

    Oleh:
    Optein Taliwunan
    SF Tim 17
    Kota Bitung
    OC 8 Sulawesi Utara
    PNPM Mandiri Perkotaan  
     
    DATA RABUAN BITUNG 7172
    Support : design and modified by : asmandat7172 | salva
    Mofified © 2013. PNPM-MP Bitung - All Rights Reserved